https://farmasetika.com/2019/11/11/fda-setujui-terapi-pertama-untuk-pasien-berkelainan-darah-langka-beta-thalassemia/

Thalassemia adalah penyakit genetik yang paling umum dengan kerusakan pada gen α-globin atau β-globin yang
mengurangi produksi hemoglobin. Dalam bentuk yang paling parah, penderita thalassemia membutuhkan transfusi sel darah merah rutin dapat segera setelah lahir untuk bertahan hidup hingga menutup usia dengan demikian menimbulkan beban ekonomi, mental dan sosial bagi pasien dan juga bangsa.

Studi antara β-thalassemia dan infeksi SARS-CoV-2 atau COVID-19 belum mapan. Sebuah studi di Italia mengidentifikasi 11 pasien dengan β-thalassemia dan penyakit COVID-19 yang mendasari, di mana tidak ada peningkatan keparahan yang diamati. Selain itu, dengan menggunakan model regresi untuk menemukan korelasi antara kasus COVID-19 yang dikonfirmasi dan mortalitas dengan kejadian talasemia di tiga wilayah Italia yang berbeda, penelitian menunjukkan korelasi negatif antara kejadian COVID-19 dan β-thalassemia. Terlepas dari jumlah responden yang sedikit dan waktu observasi yang singkat, fenomena ini kemungkinan disebabkan oleh kesadaran diri karena mengisolasi diri; bagaimanapun, fenomena ini menarik untuk diteliti lebih lanjut kondisi in vitro dan in vivo untuk memahami hubungan antara β-thalassemia dan COVID-19 yang mungkin membawa wawasan baru mengenai patologi penyakit yang hingga saat ini belum ditemukan obat definitif.