Ivermectin kembali membuat kehebohan. Sebenarnya bukan salah Ivermectinnya sih, yang salah adalah pembuat statement “Ivermectin digunakan sebagai terapi COVID”.

Berawal dari surat permohonan untuk menyetujui penggunaan Ivermectin dengan alasan sudah dimasukan dalam “terapi opsional” oleh National Health Institute (NIH) US pada tanggal 15 Januari 2021. Yang ternyata, pada tanggal 21 Januari 2021 website NIH masih menyatakan bahwa bukti yang diperlukan masih sedikit, studinya pun masih terbatas, dan diperlukan studi yang lebih luas, lebih baik protokolnya, dll.

Buat kalian-kalian yang mendapat broadcast Ivermectin, jangan disebarkan ya. Karena BPOM sendiri sudah mengklarifikasi bahwa Ivermectin adalah obat cacing. Obat ini bekerja pada neurotransmitter GABA yang dapat menyebabkan kelumpuhan saraf dari cacing yang kemudian berujung pada kematian. Efek samping yang berat terutama didapatkan oleh reaksi tubuh terhadap cacing yang mati, walaupun penggunaan Ivermectin juga memiliki efek samping. Efek samping yang dapat terjadi berupa mual, muntah, gatal-gatal, pusing, hingga bisa gangguan neurologis.

Saat ini sebenarnya Ivermectin memang sudah digunakan dalam uji klinis pada RS di Indonesia. Namun masih dalam penelitian. Bahkan, India yang sempat mendukung Ivermectin sebagai terapi COVId-19 saja, sudah menghapuskan obat ini dari list terapi COVID.

Memang sih, baik uji insilico, in vitro, in vivo, dan uji klinis terbatas memperlihatkan efek dari obat ini dalam menurunkan jumlah virus, tapi jika diteliti lagi, penurunannya itu sangat bervariasi antara kontrol dan perlakuan. Itulah mengapa NIH, FDA, juga CDC tidak merekomendasikan penggunaan obat ini.

Obat ini paling banyak digunakan untuk terapi pada hewan lho. Jadi jangan asal beli sendiri ya, harus konsul pada tenaga kesehatan profesional sebelum penggunaannya. Jarang banget lho dokter Indonesia yang pernah pakai Ivermectin (hingga saat artikel ini ditulis), karena memang izin edarnya baru-baru saja untuk manusia dan onchocercariasis (disebabkan cacing Onchocerca volvulus, Ivermectin ini drug of choice-nya) tidak ada di Indonesia.

tetap sehat teman-teman semua.